TEKNIK BIOMEDIS UDINUS TERUS KEMBANGKAN KURSI RODA MODERN

Kemajuan teknologi dewasa ini terus menyasar ke segala lini. Di antaranya adalah memberi kemudahan hidup untuk para penyandang disabilitas.Progdi Teknik Biomedis Universitas Dian Nuswantoro (Udinus), mengembangkan alat kursi roda yang memiliki teknologi modern.

 

Kursi roda merupakan salah satu alat bantu yang digunakan oleh orang yang memiliki keterbatasan dalam berjalan yang dapat disebabkan karena penyakit, cedera maupun kekurangan fisik. Umumnya, kursi roda digerakan dengan cara mengayuh menggunakan tangan oleh, ataupun didorong oleh orang lain. Hal ini memicu program studi Teknik Biomedis Udinus untuk mengembangkan kursi roda dengan teknologi modern dan mampu digunakan dengan mudah.

 

Ketua Progdi Teknik Biomedis Udinus, Dr. Aripin M.kom saat diwawancara menjelaskan, pengembangan kursi roda berteknologi modern memberikan solusi bagi penderita yang hanya mampu menggerakkan jari tangannya. Menurut dia,  dengan kursi roda ciptaan dari Progdi Teknik Biomedis akan memudahkan para penyandang disabilitas. “Kami membuat kursi roda ini agar penyandang disabilitas bisa berinteraksi dan beraktivitas secara lebih baik tentunya penyandang disabilitas dapat lebih mandiri, mudah dan aman dalam menjalankan kursi roda," katanya.

 

Menurutnya selama ini kursi roda yang telah ada masih merepotkan pengguna. Keterbatasan gerak terjadi karena tanggan penyandang disabilitas menggerakkan roda kursi roda, sehingga kesusahan untuk melakukan aktivitas lain. Kursi roda hasil pengembangan progdi Teknik Biomedis Udinus ini, secara teknis dipasangi sensor flex di sebuah sarung tangan pengendali yang ada di bagian kanan kursi roda. Sensor flex adalah sensor yang berfungsi untuk mendeteksi suatu kelengkungan. Sensor flex biasa digunakan untuk pengontrolan robot. "Kami melihat pengguna kursi roda kesulitan dan tidak bergerak secara leluasa. Sensor flex ini kami integrasikan ke dalam mesin penggerak yang ada di bawah kursi roda. Bisa maju, belakang dan belok. Sensor itu ada di bagian jari telunjuk, jari tengah dan jari manis," urai Aripin.

 

Menurut Kaprogdi Teknik Biomedis, dengan menggunakan sensor itu, penyandang disabilitas tak perlu lagi repot-repot menggunakan tenaga tangannya untuk mengayuh roda yang berada di kursi roda. Upaya penyempurnaan teknologi kursi roda tersebut dilakukan dengan mendatangkan ahli bidang desain produk-produk biomedis asal Belanda, Ir. G. J. Verkeke dari University of Twente. Dalam pengembangannya, selama sejak 2019 lalu, kursi roda elektrik memiliki kapasitas baterai yang cukup besar sekitar 5500 mah dan mampu digunakan selama 4 jam tanpa berhenti. Sedangkan dalam proses pengisian baterai memakan waktu sekitar 3 jam.

 

Kursi roda modern yang dikembangkan progdi Teknik Biomedis Udinus dapat menjadi terobosan baru bagi penyandang disabilitas. Dalam pengembangannya, kursi roda yang memanfaatkan gerakan jari penggunanya berkolaborasi dengan program studi Teknik Elektro Udinus. "Kami terbantu dengan kedatangannya dalam penyempurnaan alat ini Ia memberikan koreksi untuk sensor yang digunakan, letak sensor yang baik dan lain-lain. Tentunnya kualitas akan lebih baik dan memiliki kualitas seperti buatan luar negeri," ungkap Aripin. (*Humas Udinus/Alex. Foto : Alex Devanda)