PRODUK JAMUR TIRAM KARYA MAHASISWA S1 MANAJEMEN UDINUS LOLOS KBMI 2021

Lolos dalam Kompetisi Bisnis Mahasiswa Indonesia (KBMI) 2021, salah satu tim mahasiswa dari Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang. Produk dengan nama Mushroom Nim karya mahasiswa S-1 Manajemen Udinus ini dapatkan dana sebanyak 21,5 juta rupiah.

 

Produk olahan jamur krispi yang masuk dalam kategori makanan pada KBMI 2021 ini, disusun oleh tim yang berisikan tiga mahasiswa Udinus. Dua diantaranya dari prodi S-1 Manajemen Udinus yakni Anggoro Aziz Dwisambodo sebagai ketua tim sekaligus bagian produksi, dan Shaharani Ardita Mulyono sebagai bagian keuangan. Bersama dengan satu mahasiswi prodi S-1 Ilmu Komunikasi Udinus yaitu Faras Iqlima Zein sebagai bagian pemasaran.

 

“Seleksi untuk KBMI ini sudah dimulai sejak Mei lalu dan dengan dana yang telah didapatkan nantinya akan dilakukan penilaian kembali dalam expo yang dilaksanakan secara online pada bulan November nanti,” jelas Anggoro saat ditemui.

 

Produk dengan bahan jamur tiram ini memang sudah dipasarkan oleh Anggoro sejak September 2020. Dengan beberapa varian rasa seperti original, barbeque, balado, dan kimchi, yang dipasarkan melalui beberapa olshop dan juga instagram dengan nama akun @hi_mushroomnim. “Selain itu juga ada beberapa content creator sosmed yang turut mempromosikan produk kami. Dalam satu bulan kurang lebih sebanyak 350 produk dapat terjual dengan omset mencapai 4 juta rupiah,” ujarnya.

 

Produk lokal ini awalnya terinspirasi dari keresahan petani jamur di daerah Purwokerto yang susah menjualkan produknya di masa pandemi. Dengan mengolahnya menjadi jamur krispi juga akan meningkatkan daya jual di pasar. Tidak hanya mensejahterakan para petani jamur, dengan dikerjakan dalam rumah produksi secara tidak langsung juga turut membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitarnya.

 

Dengan adanya dana dari KBMI ini, diharapkan dapat lolos ke jenjang yang lebih tinggi. Variasi produk dari olahan jamur tiram ini juga akan ditambahkan agar dapat menerima jamur yang lebih banyak dari para petani.

“Untuk saat ini jamur yang digunakan memang hanya jamur tiram saja, dengan dana yang didapatkan kami berencana untuk membenahi lagi kemasan produk serta menambahkan perlengkapan guna mengefisienkan proses produksi,” harap Anggoro. (Humas Udinus/Haris. Foto: Haris Rizky)